Sosok Banker Papan Atas, Politisi Santun dan Auditor Tegas |


Achsanul Qosasi
Achsanul Qosasi, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

BIROKRAT – Karier Achsanul Qosasi yang akrab disapa AQ ini memang terbilang unik. Berasal dari keluarga kyai besar, pemilik pondok pesantren di Madura, AQ pernah merintis karier di perbankan, kemudian politisi dan kini sebagai auditor. Tak heran ia begitu menguasai bidang keuangan dan birokrasi. Seluruh perjalanan karier ini dilalui jebolan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Pancasila ini dengan mulus.

Dalam berpolitik, AQ dikenal santun dan tak suka meledak ledak seperti kebanyakan politisi. Ia dikenal banyak teman dan kerap membantu teman. Pemilik Madura United (MU) ini bahkan punya filosofi yang sangat menarik bagi kehidupan sosial. Bagaimana pandangan AQ terhadap berbagai perkembangan yang terjadi saat ini? Berikut wawancara Property&Bank dan Tim Penerbitan Buku Profil Alumni Universitas Pancasila di ruang kerjanya lantai 18, Gedung BPK, Gatot Subroto Jakarta.

Bagaimana Anda memutuskan membantu atau tidak seseorang?
Saya bisa tahu performance, cara presenting, cara berdiskusi, pendidikan dan lainnya. Memang tidak selama nya bisa. Jika peluangnya untuk dibantu benar, kita akan bantu. Bagi saya, saya tahu dia. Dia tidak akan macam-macam. Biasanya seperti itu. Kalau tidak memenuhi yang jangan.

Bagaimana Anda memandang sebuah pertemanan?
Dalam kehidupan, kalau kita ada permasalahan, yang paling berpeluang membantu adalah teman. Saya banyak teman hampir nggak punya punya musuh. Bahkan ada orang yang tidak suka dengan saya, biasanya saya datangi, jadi teman. Ketika bank saya ditutup, yang bantuin saya juga teman. Setiap kita punya masalah, maka teman akan membantu.

Bagaimana cara Anda berteman?
Jangan pernah mengkhianati kawan, jangan pernah memanfaatkan kawan dalam sisi yang negatif. Posisikan kawan sesuai tempatnya. Itu satu hal yang harus di jaga. Silahturahmi yang sangat saya jaga. Dulu sebelum ada group sosmed, yang punya nomor teman-teman sekelas itu saya. Hanya saya yang punya list nomor telefon rumahnya.  Jangan jika kita sudah jadi seseorang, lalu sungkan berkomunikasi. Tempatkan teman sebagaimana seorang teman. Kalau dia dalam posisi melaksanakan tugas ya, perlakukan dia sebagai pejabat. Tetapi kalau posisi bersama-sama, ya sebagai sesama teman.

Saya orang yang paling peduli dengan teman. Sampai hari ini pun saya tidak punya musuh. Walaupun saya orang politik, tetapi rasanya jika ada orang yang tidak sepaham dengan saya, itu bukan musuh saya, dan kita harus tetap baik. Saya seperti ini juga atas bantuan teman-teman Parpol. Kita boleh beda pendapat, tetapi kita harus dewasa. Maka hilangkan kalau berbeda lalu dianggap musuh. Kalah dianggap aib, itu tidak boleh. Hidup ini kompetisi, kalau kalah ya ucapkan selamat kepada yang menang. Berbeda bukan berarti musuh.

Bagaimana untuk bisa seperti itu?
Harus bisa  menerima perbedaan. Menerima kekalahan itu adalah sikap yang harus dipelajari,  mulai diajari dan ditumbuhkan dari kecil. Hidup itu juga berbeda. Kalau memang berbeda, kita cari samanya. Kalau kita cari perbedaannya kita akan berantem terus. Bisa saja kita tidak seagama dengan sesorang, tapi kalau baik ya didukung

Dulu Anda pernah jadi banker, lalu sekarang auditor. Bagaimana kesannya?
Dulu saya sebagai profesional, saya membuat neraca, performance, saat ini saya justru memeriksa neraca. Dan saya pernah menyetujui itu sebagai approval. Dan itu hal yang menarik dalam kehidupan saya. Perbedaan yang paling nyata saat saya di DPR. Kalau di DPR,  saya punya info hanya satu lembar, tetapi saya bisa omongin itu selama dua bulan ha ha ha. Nah di BPK tidak. Datanya bisa satu lemari,  tapi saya tidak pernah muncul di media untuk menyampaikan. Saat di BPK data saya banyak betul, tetapi saya tidak bisa bicara ha ha ha ha….

Jika harus memilih ulang, posisi mana yang akan Anda pilih?
Bagi saya, saya harus melewati semua. Saya executive professional sudah, sebagai birokrat sekarang dan sebagai politisi sudah. Dan itu memang sebuah khasanah yang harus dilewati secara matang. Begitu saya selesai dengan DPR, teman-teman parlemen itu semestinya juga harus tahu bagaimana pada saat sebelum menjadi DPR. Karena jangan sampai tidak memiliki pengalaman apapun lalu berusaha untuk menjadi politisi, karena berbahaya dan posisinya sangat strategis.  Harus menyetujui anggaran Rp 2.200 T, bayangkan.

Begitu di dewan menyetujui, BPK memeriksa. Saya tahu postur  anggaran. Saya tahu alokasi. Saya pahami, alokasinya saya tahu. Sehingga tidak bisa membohongi saya. Membuatnya saya pun pernah tahu. Dan itulah kuncinya dalam perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban dan pelaporan. Karena uang ini uang rakyat, saya di BPK ini diberikan mandat, untuk meyakinkan pemerintah dan masyarakat, untuk betul-betul memakai uang rakyat ini memang sesuai untuk kepentingan rakyat. Hal-hal seperti inilah yang dilakukan oleh BPK sehari-hari.

Sebagai auditor negara BPK diberi mandat oleh UU untuk meyakinkan kepada rakyat bahwa penggunaan uang yang dilakukan oleh para eksekutif, terlaksana dengan baik. Sesuai dengan aturan yang ada. Rp 1 yang dikeluarkan digunakan semaksimal mungkin bagi kepentingan rakyat. Dari hasil ini saya sampaikan kepada rakyat. Laporan saya kirim kepada rakyat dan pemerintah. Untuk melakukan evaluasi. Rakyat baca terhadap temuan-temuan itu, agar diawasi pemerintah.

Bagaiman awal Anda tertarik jadi politisi?
Sebagai profesional saya sudah di level yang paling tinggi. Setelah itu apa. Saya harus terjun ke politik. Jadi politik itu pilihan setelah saya merasa matang. Terakhir saya Direktur Utama bank. Itu saya lalui mulai dari asisten manager, manager kepala cabang, kepala divisi, direktur, dirut. Saya pernah Kepala Cabang di Surabaya di usia 26 tahun. Paling muda, belum nikah waktu itu, membawahi 120 karyawan. Wakil saya usianya lebih tua.

Apa tugas Anda di BPK?
Saya pegang dua kementerian dan BUMN.

Pernah punya cerita paling berkesan saat jadi politisi?
Menjadi tameng pemerintah selama 5 tahun ha ha ha. Saya menjadi orang paling depan yang membela Bapak SBY dalam 5 tahun di DPR. Kebetulan saya duduk di komisi yang saya kuasai. Saya pelajari betul setiap program pemerintah. Sebelum bicara ke publik, saya pelajari dulu dengan detail. Saya lihat saja posturnya, misalnya postur anggaran inflasi berapa, biaya tunggal berapa, baru kita pelajari perencanaan. Dan saya membela. Membela itu tidak harus memuji. Jadi saya membela SBY, membela pemerintah. Bukan harus memuji, bukan. Tetapi menyampaikan kepada rakyat, ini loh maksud pemerintah.

Bagaimana Anda memberlakukan Keluarga?
Saya sangat mencintai keluarga. Setiap pagi sebelum ke kantor, kami wajib sarapan pagi bersama. Saya pasti makan bertiga dengan istri dan puteri saya. Syarat yang disepakati, handphone kami simpan, dan ngobrol sepuasnya. Harus begitu. Awalnya berat. Putri saya baru lulus S2 di Queensland, dulu di kuliah di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi pembangunan. Sekarang dia bantu bisnis saja.

Source link

Please follow and like us:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *