Naik 16%, Intiland Bukukan Pendapatan Usaha Rp2,6 triliun Tahun 2018 |


Jajaran Direksi PT Intiland Development Tbk

BERITA PROPERTI – Di tengah tantangan yang terjadi di industri properti, PT Intiland Development Tbk pada tahun lalu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,6 triliun, atau naik sebesar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,2 triliun. Laba usaha dan laba bersih tercatat mencapai Rp327 miliar dan Rp203 miliar atau masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,2 persen dan 31,6 persen.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengatakan, kondisi sektor properti diakui masih cukup berat dan belum kembali kondusif. Meskipun begitu, pihaknya percaya peluang tetap ada dengan fokus pada segmen-segmen pengembangan yang memberi ruang untuk menciptakan pertumbuhan usaha.

“Pencapaian 2018 lalu, Perseroan cukup berhasil mempertahankan kinerja usaha di tengah kondisi pasar properti yang belum kondusif. Menurut kami, tingkat permintaan pasar terhadap produk properti relatif tidak mengalami pertumbuhan secara signifikan,” ujar Archied usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2018, di Jakarta, Rabu (15/5).

Dalam RUPST tersebut, Pemegang Saham memberikan persetujuan atas seluruh laporan dan rencana Perseroan yang tertuang dalam agenda RUPST. Antara lain, menyetujui dan mengesahkan Laporan Tahunan Perseroan untuk tahun buku 2018 yang meliputi Laporan Direksi, Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris, dan Laporan Keuangan yang berakhir 31 Desember 2018. Pemegang saham juga memberikan persetujuan untuk penggunaan laba bersih tahun 2018 senilai Rp203,7 miliar.

Lebih lanjut dikatakan Archied, dari perolehan laba bersih tersebut, sebesar Rp20,7 miliar dialokasikan untuk dividen atau senilai Rp2 per saham. Nilai dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham tersebut setara 10,2 persen dari perolehan laba bersih Perseroan tahun 2018. “Sisanya sebesar Rp180,9 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan dan sebesar Rp2 miliar sebagai cadangan wajib,” kata dia.

Terkait turunnya kinerja profitabilitas, Archied mengungkapkan, terutama disebabkan oleh menurunnya margin laba kotor dan tingginya beban bunga. Berdasarkan hasil laporan keuangan triwulan I yang berakhir 31 Maret 2018, Perseroan berhasil membukukan pendapatan usaha Rp887,6 miliar, atau naik sebesar 25 persen dibandingkan triwulan I 2018 yang mencapai Rp709,2 miliar. Laba usaha dan laba bersih Perseroan tercatat mencapai Rp156 miliar dan Rp48 miliar.

Perseroan melihat tantangan yang dihadapi para pelaku di industri properti tahun ini masih cukup berat. Oleh karena itu, Perseroan akan fokus pada pengembangan proyek-proyek yang sedang berjalan dan berusaha meningkatkan penjualan inventori atau stok unit produk yang terdapat di semua proyek pengembangan.

Di awal tahun 2019, kinerja penjualan perseroan sepanjang triwulan I membukukan pendapatan penjualan (marketing sales) Rp254,2 miliar, atau sekitar 10,2 persen dari target tahun ini sebesar Rp2,5 triliun. Perseroan akan memprioritaskan pada penjualan proyek-proyek hunian, baik yang berasal dari pengembangan kawasan perumahan maupun apartemen. Perseroan saat ini memiliki sejumlah pengembangan proyek hunian yang diproyeksikan dapat memberikan kontribusi penjualan cukup signifikan di tahun ini.

Pada segmen pengembangan kawasan perumahan, perseroan mengandalkan penjualan unit rumah dari proyek Serenia Hills dan Talaga Bestari di Jakarta serta Graha Natura di Surabaya. Sementara untuk pengembangan apartemen, perseroan masih mengandalkan penjualan dari lima proyek apartemen yakni 1Park Avenue, Fifty Seven Promenade, dan Regatta di Jakarta serta Graha Golf dan The Rosebay di Surabaya.

“Penjualan dari proyek-proyek residensial, khususnya pengembangan kawasan perumahan masih relatif stabil dan bisa diandalkan. Kalau untuk apartemen, kami akan fokus pada penjualan unit-unit stok,” pungkas Archied.

Source link

Please follow and like us:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *