Dampak Corona, Agen Properti Manfaatkan Aplikasi Virtual Untuk Jualan |


Akibat corona, agen properti lakukan tur rumah secara virtual

BERITA PROPERTI – Cepatnya penyebaran dan bertambahnya korban akibat virus corona atau Covid-19, baik yang terinfeksi positif maupun yang meninggal, menimbulkan tekanan besar bagi perekonomian, termasuk juga sektor properti dalam negeri.

Sejumlah pengembang residensial menyatakan aktivitas pemasaran properti telah terganggu karena konsumen mengurangi interaksi sosial. Pihak pengembang juga mengurangi acara gathering dan pembukaan booth untuk menghindari penularan Covid-19. Sementara, sejumlah agen properti dikabarkan sangat membatasi pertemuan open house.

Meski virus corona menutup pintu open house, tetapi kini membuka peluang jendela digital yakni tur rumah secara virtual. Dilansir New York Post (17/3), disebutkan bahwa ketika wabah penyakit baru ini menyebar secara global, pasar properti di New York juga terkena dampaknya.

Sebagai alternatif untuk melihat subyek properti secara langsung, beberapa agen beralih ke teknologi, menawarkan pembeli aplikasi tur virtual. Ideal Properties Group yang berbasis di NYC meluncurkan listing virtual yang disebut Showings on Demand.

Salah satu agen menjelaskan biasanya pengalaman virtual disediakan untuk rumah besar dan mewah, “di mana pemilik tidak ingin orang berlalu-lalng di apartemen mereka, atau jika saya pikir properti itu mungkin menarik bagi orang asing.” Tapi, saat ini dia mulai menawarkan tur 3-D untuk kelompok rumah yang lebih murah.

Sejumlah penyedia listing rumah secara remote ini melihat bisnis mereka berkembang. Dilaporkan satu perusahaan real estat, Sky Blue Media, yang menyediakan tur virtual di Washington, DC menyatakan ada peningkatan permintaan untuk tur yang lebih detil, demikian menurut New York Post.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Nurul Yaqin mengatakan di tengah kondisi ini, para agen properti diyakini memiliki strategi tersendiri dalam memacu penjualannya. Memang peringatan tinggi, tapi properti itu punya karakteristik, mereka yang bisa membaca peluang,” ujarnya akhir pekan lalu.

Presiden Direktur Benhokk Property itu mengakui masih ada peluang di tengah kondisi tertekan ini mengingat permintaan besar kemungkinan berasal dari under market value atau di bawah nilai pasar. Ia meyakini ada diskon besar dari penjual properti khususnya di pasar sekunder alias properti bekas seperti rumah, apartemen dan ruko.

Menurutnya, para investor kemungkinan menjual aset propertinya untuk konsolidasi guna menutupi kebutuhan prioritasnya. Ia percaya daya beli pasar masih akan tetap ada meskipun tengah dihadapkan pada tantangan yang berat. Dia juga menyebut kondisi pasar ini dengan istilah ‘virus kepanikan’.

Namun, bagaimanapun kondisinya, dia menyatakan agen properti harus tetap bisa meyakinkan konsumen tentang situasi kepanikan pasar saat ini sehingga penjualan dapat terus dipacu.

“Kuenya sangat kecil, tetapi masih ada, supply-nya banyak. Tinggal bagaimana agen harus berbicara pada loyalis kostumernya. Orang yang bisa diajak diskusi, ditransfer keyakinan, membuka wawasan, kemudian mengambil suatu risiko bersama-sama secara terukur. Mestinya ini strategi satu-satunya dalam kondisi saat ini,” katanya.

Di sisi lain, Nurul memahami konsumen membatalkan kunjungan ke lokasi proyek lantaran khawatir terhadap penuluran virus corona yang berujung pada batalnya transaksi properti. Hanya saja, tren kunjungan proyek bisa dikurangi oleh agen properti mengingat saat ini pemasaran juga telah bergeser ke layanan digital.

Tren mengunjungi lokasi proyek juga menurutnya sudah minim dilakukan di tengah maraknya saluran pemasaran digital oleh setiap perusahaan broker properti. Tur virtual melalui aplikasi ini sebagai peluang juga bagi para agen properti di Indonesia di tengah merebaknya virus corona.

Mencari unit properti pilihan konsumen bisa melakukannya melalui aplikasi beli rumah online dengan bermodal smartphone dan perangkat komputer. Sejumlah aplikasi yang semakin dikenal pasar dengan baik, di antaranya: Rumah.com, Urbanindo.com, Lamudi Real Estate, Mitula, dan Rumah 123.

Tinggal pengembang aplikasi tersebut, atau yang lainnya, dapat menambah detail virtualnya lebih baik sesuai dengan kebutuhan spesifik konsumen. Selain itu ada opsi selain mengunjungi lokasi proyek salah satunya adalah melalui perantara seperti perbankan.

“Ini rujukan konsumen untuk meyakinkan proyek ini layak atau tidak, termasuk legalistas pengembangnya,” jelasnya. Konsumen pun punya opsi melalui konsultan properti. Namun, konsultan jadi pilihan oleh konsumen yang profilnya tinggi. Sebaliknya, agen biasanya digunakan oleh kalangan kelas menengah dapat memaksimalkan peluang. (Artha Tidar)

Source link

Please follow and like us:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *